Sunday, 24 February 2013

Kurikulum 2013, Antara Perubahan, Implementasi dan Ekspektasi

Kurikulum 2013, Antara Perubahan, Implementasi dan Ekspektasi

Haruskah Kurikulum Berubah?

Atau Mindset Stakeholder Pendidikan yang Perlu Berubah? 


Pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang masif di tengah gencarnya pemerintah melakukan uji publik dan sosialisasi kurikulum 2013. Pertanyaan ini menjadi sangat mudah dijawab bila kita mengkonfrontirnya dengan ungkapan "tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri". Jadi kalau kurikulum berubah berarti suatu hal yang wajar. Namun pertanyaan yang sesungguhnya perlu disampaikan adalah (1) untuk siapa kurikulum diubah?, (2) apa substansi perubahan kurikulum, (3) bagaimana kesiapan dan persiapan implementasi kurikulum, dan (4) bagaimana guru menyikapi perubahan kurikulum.

Bila mencermati bahan uji publik Kurikulum 2013 ada baiknya kita lebih melihat sisi positifnya untuk peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Yang sangat mengherankan adalah banyak pihak langsung menyampaikan penolakan tanpa pernah membaca dan mencermati muatan Kurikulum 2013. Yang paling konyol guru sebagai ujung tombak keberhasilan implementsi kurikulum selalu menolak segala bentuk kurikulum dari masa ke masa hanya karena tidak mau 'repot'. Haruskah mempertahankan ilmu usang di tengah derasnya kemajuan informasi, komunikasi dan teknologi dewasa ini?

Menyikapi empat pertanyaan di atas, kita perlu mengkonfirmasi kepada pemerintah bila kebijakan yang mewah itu - karena menelan biaya besar - adalah untuk kemaslahatan siswa atau sekadar unjuk gigi pemerintah tetap bekerja untuk rakyat. Harapannya kedua domain itu dipenuhi sehingga kemewahan itu berujung nikmat. Hal yang kedua adalah substansi perubahan kurikulum 2013. Substansi menjadi domain yang paling penting diperhatikan mengingat hal tersebut menjadi pusat pergelutan perubahan yang diusung. Tak dipungkiri pemerintah tentu punya alasan kuat dan dengan pemikiran yang matang mengusung perubahan kurikulum. Penjelasan yang terperinci dari pemerintah akan mengikis keraguan dan penolakan.

Ketiga, implementasi kurikulum tentu memerlukan infrastruktur yang sinergis mulai dari hulu ke hilir. Semangat perubahan yang diusung pemerintah kadang mati suri di tingkat sekolah. Terakhir, kita perlu mempertanyakan sikap mayoritas guru dengan perubahan kurikulum. Banyak guru telah menjadi saksi pemberlakuan berbagai kurikulum tapi tidak menjadi pelaku perubahan itu. "Anjing menggonggong kafilah berlalu" menjadi sikap yang jamak sehingga hasil yang diharapkan dari perubahan itu sendiri tidak maksimal. Menjaga spirit perubahan itu sampai ke hilir adalah suatu keharusan.

Prof. Yohanes Surya dalam bukunya "MESTAKUNG" memberi sedikit cambuk kecil bagi kita semua. Kondisi pendidikan kita saat ini mengharapkan setiap partikel di sekelilingnya bekerja serentak demi mencapai titik ideal. Dengan kata lain, keberhasilan maksimal implementasi kurikulum hanya dicapai bila semesta (semua) mendukung - MESTAKUNG. Dengan MESTAKUNG, kita harus mengawal implementasinya dengan berani melakukan breakthrough  sehingga Kurikulum 2013 tidak hanya tinggal koleksi di lemari kepala sekolah. Selamat datang Kurikulum 2013.

No comments: