Seandainya…..!
Oleh : Pollung Sinaga
Artikel ini terbit di Harian Analisa, 7 April 2005
Diwarnai kontroversi, pro dan kontra akhirnya pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) tanggal 28 Februari 2005 yang resmi berlaku sejak pukul nol nol tangal 1 Maret 2005. Sebagai masyarakat awam yang tidak melek kalkulasi ekonomi dan buta politik aku hanya bisa nrimo dan berandai-andai.
Seandainya BBM tidak naik, para penimbun BBM itu bakal gigit jari. Nyatanya, BBM naik dan mereka untung besar dan pesta pora.
Seandainya BBM tidak dinaikkan, spekulan-spekulan pasar tidak akan dapat “angin segar” menaikan harga semena-mena.
Seandainya BBM tidak dinaikkan, pengusaha angkutan dan induk organisasinya tidak perlu pusing memikirkan besaran persentase kenaikan tarif angkutan yang wajar (agar untung) setelah dikonversikan dengan kemungkinan kenaikan harga spareparts kendaraan.
Seandainya BBM tidak naik, para buruh, karyawan, staff dan, katakanlah, anak buah alias bawahan tidak bakal “panas dingin”, menuntut kenaikan gaji, menunggu gaji dinaikkan, atau pasrah dengan gaji yang lama. Ketiganya membuat mereka meriang di musim bukan pancaroba.
Seandainya BBM tidak dinaikkan, pemilik usaha kecil, menengah maupun konglomerasi tinggal hanya memikirkan kiat dan strategi mencetak profit. Sekarang, mereka harus berhadapan dengan “banteng” yang luka akibat cambukan harga kebutuhan yang melambung. Karyawan akan menuntut penyesuaian gaji.
Seandainya BBM tidak naik, para mahasiswa tidak perlu meninggalkan bangku kuliah untuk berdemonstrasi menuntut pembatalan kenaikan harga BBM. Suasana kampus yang asri, nyaman dan bersahabat tergantikan suasana jalanan yang panas, kasar, beringas dan kadang menafikan akal sehat. Ban-ban bekas jadi korban. Kelak “asosiasi” ban bekas akan mengorganisasi anggotanya berdemonstrasi mempertanyakan mengapa anggota kelompok mereka yang jadi korban bakaran.
Seandainya BBM tidak dinaikkan, ibu-ibu rumah tangga yang belanja di pasar (tradisional) tidak akan tergagap-gagap dan terpekik dengan lonjakan harga kebutuhan yang mencapai 30%.
Seandainya harga BBM tidak dinaikkan, Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI dan Polri tidak berwacana kapan gaji disesuaikan. Untuk menuntut mereka enggan. Dalam diam mereka berharap dan menunggu. Rumor dan kabar burung seputar kenaikan gaji bak berita infotainment.
Seandainya BBM tidak naik, demonstrasi besar-besaran akan marak mengelu-elukan presiden, wakil presiden serta anggota Kabinet Indonesia Bersatu sebagai ‘dewa penolong’ atau ‘Ratu Adil’.
Seandainya BBM tidak dinaikkan, aku tidak perlu susah-susah mengatur ulang bahkan mengurangi pos-pos pengeluaran agar tidak tekor dengan pendapatan yang mungkin tidak akan naik.
MISKIN
Seandainya BBM tidak naik, aku tidak akan terdeteksi sebagai masyarakat miskin.
Selama ini saya terus bersembunyi, tidak mau mempublikasikan diri sebagai orang miskin. Akan tetapi setelah BBM naik dan pemerintah akan mendata masyarakat miskin perkotaan dan pedesaan, dengan terpaksa saya akan mencatatkan diri sebagai orang miskin. Katanya, ada kompensasi BBM untuk orang miskin. Tapi aku kuatir, jangan-jangan aku tidak kebagian gara-gara tidak tahu arti “kompensasi”.
Seandainya harga BBM tidak naik, aku tidak akan teringat program-program pemerintah terdahulu yang mengatasnamakan rakyat kecil dan miskin seperti JPS, bantuan pinjaman bergulir dan bantuan ternak yang banyak salah sasaran. Kini, aku tambah ragu dengan kebijakan kompensasi BBM. Namun keraguanku biarlah tinggal keraguan. Orang bijak tidak akan jatuh dua kali ke lobang yang sama. Aku tidak rela melihat bangsa ini semakin dimiskinkan oleh kebijakan pemimpinnya sendiri.
Seandainya harga BBM tidak naik, dan klaim Malaysia atas blok Ambalat tidak ada, aku ‘kan tidur pulas di waktu malam dan tenang bekerja di waktu siang. Televisi hitam putih 14 inci, satu-satunya barang elektronik di rumah yang berfungsi sebagai hiburan keluarga, hingga saat ini belum tertandingi sebagai entertainer.
Seandainya harga BBM tidak dinaikkan, krisis Ambalat yang muncul seminggu terakhir ini tidak akan membuat pikiranku galau dan semakin trenyuh, cobaan apalagi yang akan dialami bangsa ini. Belum hilang ”luka” bencana Tsunami yang meluluh-lantakkan Aceh dan sebagian Sumatera Utara, banjir dan longsor di berbagai daerah, kenaikan harga BBM seperti sembilu mengiris luka baru dan klaim Malaysia atas blok Ambalat seperti asam diteteskan di luka itu. Namun, aku tidak menyalahkan siapa-siapa, apalagi Tuhan. Aku masih berkeyakinan bila kenaikan harga BBM merupakan kebijakan matang pemerintah untuk mensejahterakan rakyat, serta krisis Ambalat mampu menggugah rasa nasionalismeku yang sempat pudar.
Seandainya BBM tidak dinaikkan, tekadku menjadi TKI akan menuju ke titik nadir. Kucoba bertahan di Indonesia walaupun hidup pas-pasan. Saya bangga lahir, besar dan tinggal di Indonesia. Saya juga ingin hidup di Indonesia. Akankah keinginan dan kebanggaan ini akan sirna oleh kemilau negara jiran? Mereka tegas dengan pendatang haram dan sesungguhnya aku takut hukum cambuk. Semoga langkahku tertahan oleh upaya konkrit pemerintah menyediakan lapangan kerja atau kesempatan membuka usaha kecil-kecilan di depan rumah tanpa intimidasi dari preman kampung yang muncul saban hari. Akan kutunjukkan kepada saudara-saudaraku yang telah bekerja di negeri jiran Malaysia, Singapura, Korea, Taiwan bahkan nun jauh di Arab sana bahwa aku bisa hidup layak di negeri ini.
Seandainya harga BBM tidak dinaikkan pemerintah, mungkin sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Selasa 15 Maret 2005 lalu tidak akan ricuh apalagi diwarnai adu jotos. Mereka adalah anggota dewan yang terhormat yang tahu malu (saat sidang ricuh, ada anggota dewan yang berteriak, “Malu kita!”) namun tetap saja berbuat malu.
Yah, sudahlah. Seandainya harga BBM tidak naik, tulisan ini tidak akan hadir di hadapan anda. Ke depan hidup mungkin semakin keras. Mari kita menyesuaikan diri untuk bertahan hidup di era kenaikan harga BBM yang dalam sejarah tidak pernah turun di negeri ini.***