Mestakung, Suatu Keharusan dalam Pendidikan Kita
Artikel ini terbit di Harian Analisa Sabtu, 9 Juni 2007
If you want one year of prosperity, grow grain. If you want ten years of prosperity, grow trees. If you want one hundred years of prosperity, grow people (Pepatah China).
Keberhasilan Jonathan Pradana Mailoa, siswa SMAK 1 Penabur Jakarta sebagai The Absolute Winner pada Olimpiade Fisika International ke-37 di Singapura mengalahkan 385 siswa terbaik dunia dari 84 negara dan menjadikan Indonesia sebagai juara dunia menjadi bukti nyata bahwa Indonesia bertabur permata dan bintang pelajar yang siap mengubah Indonesia dan dunia. Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) kita akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan bangsa bila dikelola oleh Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas dan handal. Termasuk memenangkan hadiah Nobel dan mencatatkan diri cemerlang dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa bukanlah keniscayaan.
MESTAKUNG, berarti seMESTA menduKUNG! Istilah ini diambil dari konsep sederhana fisika, bahwa ketika sesuatu berada dalam kondisi kritis maka setiap partikel di sekelilingnya akan bekerja serentak demi mencapai titik ideal”. Menurut “penemu”-nya, Prof. Yohanes Surya, Ph.D yang sukses membawa pelajar Indonesia juara pada Olimpiade Fisika Internasional sejak tahun 1993-2006 mestakung merupakan rahasia sukses tim olimpiade fisika Indonesia. Dalam buku-bukunya MESTAKUNG Rahasia Sukses Juara Dunia Olimpiade Fisika (2006), Yohanes Surya mengemukakan bahwa kerja sama, keterlibatan dan pengaturan diri seluruh unsur atau komponen terkait mutlak diperlukan untuk menghasilkan suatu perubahan (keberhasilan) yang tidak terduga.
Konsep ini bukanlah hal baru dalam khazanah pemikiran modern, bukan pula dalam pendidikan di tanah air. Pertanyaan yang muncul, bagaimana mungkin seluruh komponen yang seharusnya terlibat dan berperan dalam pendidikan mendukung pendidikan? Prof. Yohanes Surya telah meretas ketidakmungkinan itu.
PENGHAMBAT MESTAKUNG
Problematika pendidikan di tanah air yang kian menggunung tanpa penyelesaian yang sistematis dan melegakan berujung pada rendahnya mutu lulusan. Mutu lulusan yang rendah mengakibatkan bukan hanya keterpurukan permanen dalam dunia pendidikan saja namun juga berimbas pada bidang-bidang lain seperti ekonomi, politik, hukum dan sosial karena generasi bangsa tidak mampu menjawab tantangan jamannya sendiri. Pekerjaan rumah para stakeholders pendidikan ini belum rampung dan terselesaikan dengan hasil menggembirakan. Patut dicatat beberapa pemicu tidak terjadinya mestakung dalam pendidikan kita antara lain orientasi pembangunan yang salah kaprah, perencanaan kurikulum kurang baik, pembangunan SDM pendidikan masih lemah, dan peran serta masyarakat belum optimal.
Pertama, orientasi pembangunan nasional belum mampu melihat keterpurukan bangsa sebagai kesalahan memilih prioritas pembangunan. Bangsa kita telah banyak belajar dari keberhasilan negara lain bangkit dari keterpurukan dengan menempatkan pendidikan sebagai prioritas, membangun SDM berkualitas sebagai motor penggerak bidang-bidang lain. Apa lacur, kita berkilah pada tataran implementasi.
Editorial sebuah surat kabar harian terbitan Medan dengan gamblang mengilustrasikan keanehan tersebut, “Jelas diketahui bahwa urusan pendidikan adalah urusan jangka panjang. Sementara di depan mata, urusan politik yang semakin carut marut membuat pemerintah ingin tetap populis dengan melakukan kegiatan yang sifatnya jangka pendek. Tarik ulur antara masalah kepentingan sesaat dengan kepentingan jangka panjang memang ibarat ilustrasi sebuah roda pedati yang dihela oleh kuda.
Dalam kaca mata pemerintahan yang penting adalah menyelamatkan roda pedatinya yang urusan-urusan ekonomi, politik, dan perdagangan. Sementara kuda yaitu pendidikan dikebelakangkan. Dalam kaca mata para guru dan pemerhati pendidikan, kuda selalu ditempatkan di depan. Jayanya sebuah Negara dianggap karena pemerintah menempatkan pendidikan dengan segala urusannya sebagai pemandu dan penghela roda pedati.
Apa boleh buat, kedua kaca mata ini memang selalu bertarung dalam percaturan politik sebuah Negara. Dan karena roda pedati dianggap lebih menjanjikan kekuasaan maka kuda harus selalu mengalah. Meski kemudian adalah sebuah tontonan yang sangat menggelikan, ketika roda yang seharusnya berada di belakang dan ditarik kuda, justru berada di depan. Negara kita ini memang menggelikan karena ingin maju dan mandiri dengan cara yang salah”.
Sebagaimana diketahui bersama Korea Selatan dan Jepang tidaklah sekaya Indonesia dalam hal SDA tetapi mereka kaya dengan SDM berkualitas yang mampu mengelola SDA yang minimal secara maksimal dan optimal. SDM berkualitas diperoleh dari pendidikan berkualitas. Pendidikan berkualitas tentu tidak diperoleh dengan memandang pendidikan sebelah mata baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
KURIKULUM PENDIDIKAN
Kedua, kurikulum pendidikan kita dituding tidak terencana dengan baik. Menurut Prof. Said Hamid Hasan, Guru Besar Bidang Kurikulum Universitas Pendidikan Indonesia Bandung bahwa pendidikan kita gagal dalam implementasi kurikulum. “Pengalaman kita dalam pengembangan kurikulum dari periode ke periode menunjukkan tiga fenomena. Pertama, pengembangan setiap kurikulum terencana dengan baik hanya untuk ‘curriculum construction’ yang menghasilkan dokumen kurikulum tetapi tidak terencana dengan baik untuk ‘curriculum implementation’ dan ‘curriculum evaluation’.
Dokumen kurikulum yang hanya elok tersimpan di lemari kantor (kepala) sekolah dan jarang disentuh oleh guru merupakan pemandangan yang jamak. Indikatornya, metode mengajar sebagian besar guru tidak berubah – metode ceramah jadi andalan untuk semua pembelajaran. Hasilnya, kualitas pembelajaran tidak berubah walaupun kurikulum berubah. Seperti yang diisyaratkan Prof. Said Hamid Hasan di atas, implementasi dan evaluasi kurikulum di tingkat sekolah tidak berjalan dengan baik karena kurangnya sosialisasi dan minimnya bantuan professional ketika guru kesulitan dalam implementasi dan evaluasi kurikulum.
PEMBANGUNAN SDM
Ketiga, Pembangunan SDM pendidikan belum sistematis. Kebijakan sistematis menggembleng guru secara periodik melalui pelatihan yang mampu menyentuh seluruh guru di tanah air belum tampak menjadi agenda serius baik institusi pendidikan maupun pemerintah. Pelatihan yang ada hanya mampu menyentuh sebagian kecil guru. Bagaimana guru memahami perubahan atau revisi kurikulum tanpa pelatihan dan sosialisasi memadai menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Semestinya guru yang telah direkrut dengan seleksi ketat dilepas seperti peluru kendali yang terus dipantau eksistensinya untuk mencapai sasaran yang diinginkan. Tak heran perubahan atau revisi kurikulum hanya terjadi secara konstruksi dan bukan implementasi.
Di sisi lain, pemberian kesejahteraan yang memadai kepada guru masih terus terbentur dengan terbatasnya anggaran. Tahun 2007 dialokasikan 11% dari APBN dari semestinya 20% sesuai tuntutan UUD. Banyak pemerhati pendidikan berkeyakinan bahwa pemenuhan kesejahteraan guru akan menjadi stimulus bagi mereka meningkatkan kualifikasi dan kompetensi personal.
Kualifikasi, kompetensi, dan sikap profesionalisme guru yang tinggi secara otomatis memberhasilkan hampir seluruh kebijakan pendidikan, khususnya menyangkut kurikulum yang mengarah kepada perbaikan mutu lulusan. Kemampuan guru masih setara dengan, katakanlah, kemampuan komputer pentium I menjadi pemandangan jamak dan merupakan kenyataan pahit nan memilukan di tengah derasnya arus perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, dan komunikasi. Jelas kondisi ini tidak support dengan tuntutan pendidikan modern yang menuntut guru responsif, inovatif, kreatif dan juga profesional.
Kompleksitas persoalan yang menghadang guru seperti tuntutan eksternal profesionalisme dan pemenuhan internal kesejahteraan yang seret menjadi dua mata rantai yang sejauh ini terus berjalan ke dua arah yang berbeda. Mengharapkan guru bergerak sendiri memperbaharui ilmu usangnya, meminjam istilah Prof. Dr. Winarno Surachmad, adalah kurang etis tanpa dibarengi perbaikan kesejahteraan secara signifikan. Alhasil cita-cita pendidikan nasional menjadi sekadar fatamorgana yang hanya ada dalam Undang-Undang.
PERAN SERTA MASYARAKAT
Keempat, peran serta masyarakat dalam pendidikan belum optimal dan perlu diletakkan pada tatanan yang benar. Kesadaran sebagian masyarakat akan pentingnya arti pendidikan yang dapat merubah kehidupan seseorang belum sepenuhnya dipahami. Kemudian kekurangseriusan siswa belajar masih sering menjadi kendala dalam pencapaian tujuan pembelajaran di sekolah. Sebagian publik beranggapan bahwa tanggung jawab mendidik anak hanya tugas institusi pendidikan tempat anak mereka “dititipkan”. Kelompok tertentu bahkan tega memarjinalkan fungsi sosial pendidikan dan mengedepankan sisi komersial sehingga pendidikan menjadi pabrik uang yang sangat menguntungkan bagi mereka. Tak kalah penting pula perlu dicatat disini bahwa long life education belum menjadi budaya seluruh kalangan masyarakat. Keterlibatan anggota masyarakat dalam kepengurusan sekolah melalui komite sekolah juga belum maksimal. Komite sekolah perlu lebih diberdayakan memberi kontribusi bagi sekolah bukan menjadikan sekolah sebagai sapi perahan.
MEMPERCEPAT MESTAKUNG
Sudah menjadi rahasia bersama bahwa pendidikan yang kita bangun sekarang menjadi tolok ukur kecemerlangan atau keterpurukan bangsa ini di masa depan. Bersama kita bisa menancapkan pondasi, menindih satu bata dengan bata lainnya, membuat atap, dan kemudian memagari rumah pendidikan kita agar tidak gampang dimasuki penyusup, penggarong atau petualang. Petualang ini menjadi perlu diwaspadai mengingat eksistensinya hanya membuat benang kusut bertambah kusut. Petualang bisa berganti secara periodik dan menimbulkan destruksi secara sistemik pula. Kapan dan bagaimana mestakung terjadi dalam pendidikan kita yang kritis menjadi sebuah pertanyaan urgen yang memerlukan jawaban sesegera mungkin untuk percepatan peningkatan kualitas.
Wajah pendidikan yang elok, menarik, dan mulus menjadi dambaan seluruh komponen bangsa ini. Bila wajah itu kini masih korengan dan tidak sedap dipandang berarti kita semua punya andil mengapa hal itu terjadi dan terus terjadi. Pemerintah sebagai regulator, praktisi pendidikan sebagai ujung tombak, dan masyarakat sebagai subjek dan objek pendidikan berarti masih memberi kontribusi negatif kepada pendidikan sehingga kondisi kesehatannya masih kronis dan penyakit yang diidapnya pun komplikasi.
Sebagaimana diutarakan Prof. Yohannes Surya, Ph.D bahwa mestakung terjadi hanya bila semua komponen atau partikel di sekitarnya mengatur diri, terlibat, kerja sama, dan mendukung sepenuhnya proses mestakung. Kondisi kritis yang mendera pendidikan kita saat ini (berada di urutan 109 dari 174 negara yang tergabung di PPB) benar-benar memerlukan mestakung.
Bila kita, misalnya, membandingkan prasyarat mestakung dengan salah satu kebijakan pemerintah yaitu Ujian Nasional (UN) yang kembali digelar April, 2007 untuk tingkat SMP/sederajat dan SMA/sederajat maka kesimpulan tentatif mudah ditarik – UN tidak mampu mencapai tujuan ideal. Penyebabnya, sebagian masyarakat kurang mendukung UN. UN sebagai penentu kelulusan siswa – walau pemerintah membantahnya – tetap menyulut kontroversi. Dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 45 Tahun 2006 tanggal 13 Nopember 2006 tentang Ujian Nasional berarti ketidaksepahaman publik dan pemerintah tentang penyelenggaraan ujian nasioanl terus berlanjut.
Kelompok pro-UN dan kontra-UN masing-masing memiliki argumen kuat dan tidak terbantahkan. Bila kedua belah pihak bertahan, tentu mestakung tidak bakal terjadi. Demi kejayaan pendidikan bangsa, ungkapan “orang-orang dulu bersatu karena mereka sama-sama mengerti (sepaham) sedangkan generasi sekarang bersatu karena sama-sama tidak mengerti (sepaham)” kiranya perlu dilirik sebagai alternatif mengakhiri kontroversi berkelanjutan.
Pemerintah, praktisi pendidikan khususnya guru, dan masyarakat merupakan tiga pilar utama yang memungkinkan keberhasilan mestakung . Tampaknya mestakung sulit terjadi apabila setiap komponen pendukung menarik dukungan atau hanya mendukung setengah hati, bersyarat, penuh retorika dan tidak total.
Mestakung bukanlah keajaiban, bukan pula gaib. Konsep sederhana ini tidak memerlukan adu argumentasi, retorika, perang pena, atau sinisme berlebihan. Juga apatisme. Langkah pertama yang diperlukan hanya dukungan seluruh komponen bangsa ini terhadap pendidikan, sekecil apapun dukungan itu. Kita mengambil peranan masing-masing secara elegan dan bermartabat untuk membuka babak awal terjadinya mestakung. Kelak dukungan, keterlibatan, peran serta, kerja sama, dan pengaturan diri yang kita berikan akan melahirkan mestakung yang sesungguhnya. Kita tidak ingin lebih lama melihat bangsa ini terpuruk karena pendidikannya terpuruk.
Sekarang mari kita bertanya, memikirkan, menimbang, dan memformulasikan dukungan apa yang dapat kita berikan dan kemudian memanifestasikannya dengan arif. Contoh sederhana masyarakat dapat berperan aktif melalui komite sekolah menyumbang atau mencari tambahan dana untuk peningkatan kualitas fisik dan non-fisik sekolah. Atau paling tidak, menyekolahkan anak sebagai investasi utama keluarga (pendidikan anak diprioritaskan). Guru menjemput bola dan bukan menunggu bola dalam memperbaharui komitmen keguruannya – meningkatkan kualifikasi, kompetensi, dan profesionalisme lebih dulu, kesejahteraan akan mengikuti dari belakang. Terakhir, pemerintah menjamin kondusivitas pendidikan dengan menelurkan regulasi dan kebijakan populis. Political will yang dibalut good will akan menjadikan kebijakan pemerintah pada sektor pendidikan memperoleh dukungan publik.
Pendidikan merupakan investasi jangka panjang bangsa ini dan banyak pihak ingin menikmati hasilnya sesegera mungkin tanpa menabur dengan benih unggul. Ingin menikmati buah apel yang ranum, manis dan lezat tanpa mengurus pokoknya dengan benar. Ribuan tahun sebelum Indonesia merdeka pepatah Cina kuno “Bila ingin kemakmuran satu tahun, tanamlah gandum, jika ingin kemakmuran sepuluh tahun, tanamlah pohon, bila ingin kemakmuran seratus tahun, didiklah orang” telah ada dan dipraktekkan banyak bangsa yang kemudian maju dan menjadi besar. Kita baru akan mulai, itupun kalau kita mau. Ibaratnya, orang sudah sampai di bulan dan kita masih merangkak di bumi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi mestakung pendidikan terjadi ?
Sebab kita sudah terlalu lama akrab dengan no action talk only alias banyak bicara sedikit bekerja. Menunggu orang atau pihak lain untuk lebih dulu berbuat merupakan dagelan yang tidak lagi lucu. Secercah sinar terang yang dipancarkan para pahlawan bangsa yaitu para pemenang Olimpiade Fisika Internasional tahun 2006 lalu kiranya menuntun dan memotivasi kita ke masa depan pendidikan yang gemilang. Ternyata kita bisa bila kita mau, dan perlu mestakungI - semesta mendukung. ***
No comments:
Post a Comment